Once upon a Dreamtime

Resmi Diperbudak

November 7, 2009 · Leave a Comment

Handphone saya rusak

mati TOTAL

hal ini membuat saya sangat amat sebal

bukan karena jempol saya tidak bisa bergerak-gerak bebas lincah nan liar, ataupun bukan karena telinga saya tidak bisa merasakan kehangatan gagang telepon genggam milik saya.

tetapi

karena saya menyadari kalau saya telah berubah menjadi manusia Korban Teknologi.

semenjak SMA penyakit malas membawa telepon genggam, sudah agak sembuh. ( setidaknya sedikit sembuh, buktinya saya masih sering telat membaca sms dan susah dihubungi) sewaktu SMP dulu, saya malaaas banget membawa telepon genggam kemana-mana, pikir saya memangnya HP itu body guard atau supir , kalo dibawa kemana-mana bisa membantu hidup saya. Dinyalain aja jarang-jarang, mungkin dicharge seminggu bisa sekali.

Pada saat itu saya bingung melihat orang yang kalau ketinggalan telepon genggam bisa merasa tidak nyaman seperti orang yang kelupaan memakai celana dalam. cuih. FYI Setiap akhir pekan saya selalu mematikan telepon genggam saya, mungkin jumat sore dimatikan baru senin pagi atau minggu malam baru kembali dinyalakan. Saya amat sangat benci bila akhir pekan yang ceria, berubah menjadi jumawa hanya karena ada sms-sms penganggu rasa suka cita misalkan sms yang bunyinya ” Hari senin ada tugas apa ?” shiip, sama sekali gak dosa ada teman yang menanyakan hal itu, dan bukannya saya pelit tidak mau meng kabar-kabari info pr-pran. Tapi pleasee sabtu-minggu saya ingin melupakan hal-hal yang ada rasa-rasa dan beraroma sekolah. Hari lain boleh deh tanya yang begituan.

 

Hal lain yang membuat saya jengkel dengan si telepon genggam karena fungsi manifesnya (  kata-kata yang dipelajari di pelajaran sosiologi) yaitu sebagai jati diri. Liat aja tuh orang-orang pada ngebet beli blackberry, sampai-sampai muncul banyak barang tiruannya, diangkot saya suka bertemu orang yang asyik memegang (tampak seperti) Blackberry, Kadang-kadang merasa kalah juga, masa anak SMA (maaf) kelas C pake (tampak seperti) blackberry saya  tidak. Tapi langsung teringat, tak hanya blackberry saja yang ngetrend nexian pun lagi trend, jadi mungkin yang kelas c itu bukan asyik ber-bb-an tapi ber-nexian-an. Hahaha. lagian yang terpenting dari benda kotak besar multifungsi itu kan bukan  bendanya tapi karetnya. Asal karetnya mentereng dalamnya tak jadi soal. mau BB kek atau si Nexi.

 

Kembali ke topik, Pokoknya saya benci diperbudak tekhnologi. Kok bisa ya tekhnologi yang diciptakan manusia malah kini memperbudak si penciptanya, punya nyawa juga enggak, bisa ngomong juga gak bisa. Bagaimana mungkin kita yang katanya makhluk paling sempurna di muka bumi ini, bisa diperbudak sama benda yang kalo diceburin ke ember aja langsung K.O  Saya memang bukan HP addict, yang jempolnya bisa berasa gatel bila gak sms-an sehari aja ( bagi saya ber sms ria merupakan aktivitas yang melelahkan, kita punya 10 jari mengapa cuma 1 saja yang dipakai? gak efisien kan?). salut deh buat kamu-kamu yang doyan ber sms ria apalagi yang doyan ber sms gede kecil, dua jari tengah saya acungkan, uuups maksudnya ibu jari.  Yes I have to admit that Gao3lisTaerZ have skill to type that kind of message. Damn’em.

 

Jadi apa kriteria HP baru saya ?

bisa mendengarkan musik dan berinternet ria, that’s it.

 

Ya, sekarang saya resmi mejadi Budak tekhnologi.

→ Leave a CommentCategories: 1

Naik!

September 5, 2009 · Leave a Comment

Bukannya iri, bukannya bermaksud rumpiin urusan orang
Jadi gini, waktu jumat lalu saya pergi ke ruang BK (bimbingan konseling) ruangan yang jarang banget saya kunjungi selama sekolah. berhubung sekarang di sekolah saya pelajaran bk sudah tidak eksis lagi, jadi murid lah yang harus jemput bola, mencari informasi tentang ini dan itu. Apalagi kalau sudah kelas 3, jangan sampai ada info terlewatkan.

Lalu ada sebuah buku, yang mendata peringkat siswa dari kelas 1 sampai kelas 3. Formatnya standartlah nama, kelas, peringkat, Universitas dan jurusan tujuan, rencana PMDK dan Rencana tes apa saja.

Dan saya melihat sebuah nama, dengan peringkat 1 1 1 1, 4 kali berturut-turut alias dari masuk sampai saat ini menjadi ranking 1.
Wah gila banget, saya pikir. Kok bisa ada orang macam itu didunia fana ini. Orang lain jungkir balik berubah-ubah, kayak lagunya Katy perry hot n cold, hot and then cold, yes and then no, up and then down, in and out. etc

Tapi dengan gemilangnya oknum tersebut berhasil mempertahankan prestasi, di atas melulu, Kalau orang yang doyan mempertahankan kejelekan sih banyak, termasuk saya mungkin.

Ibaratnya gini ya, orang kalo udah dapet seneng bakalan kegirangan ( bukan kesenangan), kalau udah kegirangan lupa segala-galanya, yang penting udah dapat senang untuk hari ini kalau untuk besok lusa kalau ada rezeki lagi alhamdulillah, kalau gak ada ya udah gigitjarilah.

Berandai-andai secara legal kalian diberi kesempatan untuk membawa pulang perhiasan-perhiasan secara gratis dari toko emas, sebagai souvenir cantik hadiah dari pemerintah. Tapi syaratnya kalian hanya diberi waktu 1 menit saja, Ingat saudara-saudara 1 menit atau 60 detik.

Tentunya kalian senang kan ?

Masalahnya perhiasan yang ada didepan kalian hanyalah perhiasan emas 24 karat seberat 10 kg saja ( belagu banget, kayak mampu beli aja) , tapi sekitar 500 meter di depan kalian ada perhiasan berlian sebesar bola basket.
Yang mana yang kalian pilih ?

Kalian senang kan ? pasti kalian menganggap udahlah dapat emas aja syukur, mending emas itu langsung diambil lalu kita langsung ngacir ke Grand Indonesia, Memborong apapun yang kelihatan di pelupuk mata.
Orang-orang pun segera mengerubungi emas 10 kg itu, berlian bola basket hanya dijamah beberapa orang saja.

Buat apa saya berkhayal tidak penting seperti ini ?

Kembali ke miss perfect score, mungkin si miss yang memang selalu nomor 1 ini, menganggap ada angka lain yang lebih dahsyat dari 1, She dont want to miss it, nge-miss pun oke yang penting dapat. Kalo gak dapat jangan Miss-ruh – Miss- ruh.

Sementara saya, kalau sudah dapat coklat silver quin ya sudah cukup, gak usah ngoyo mendapatkan coklat berisi wine yang mahalnya ampun-ampunan, selama bukan dapat coklat ayam jago ya no Problemmo….

Jadi ingatlah Diatas langit masih ada langit ( hahaha so old quote)
Naiklah sampai langit paling tinggi,

naik

naik

naik!

oh ya kalau udah naik jangan turun lagi, karena jatuh dari atas lebih sakit daripada jatuh dari bawah.

→ Leave a CommentCategories: 1

a new wonder of media called Internet

August 24, 2009 · 3 Comments

Online all the time, or even spending a night at internet rental are normal things for Teenagers. Unconsciously Internet has changed into the 3rd parents for teenagers, after the “real parents” at the top of the list and followed by TV. Why ? Those things that i mentioned before has a tremendous contribution to built teenager’s personality.

The best thing that we can get from cyber world is an authority to choose what kind of entertainment or information that we want. As a netizen ( internet user) we play 2 big roles at the same time, as a bigboss and producer, Are those kinds of privileges? Maybe.. in Real world where you need much money to get those things, but in Cyber world everybody gets it, Free!

As a new media Internet has opened many possibility for us, common people, to share everything easily, Without a selection first. If you love singing, dancing, or even doing something weird but funny, you can record it, then upload it. Just Two steps to get popularity (if you are lucky enough) from internet, like a glue it makes teenagers, who need a place to show off themselves, become more and more stick to internet.

As we know, conventional media doesnt provide proper spaces for teenagers, moreover conventional media is a huge , busy industry and is chased by the deadline, its not a wise decision to involve teenagers in that industry. although teen magazines are made by the people who are not teenagers anymore. So as a revenge, teenagers spend they time in cyberworld, opening various kinds of social networking site, to publish and actualize themselves, two rare and hard things to get in real world.

Nowadays everybody, even teenagers can Participate in cyber forum, or do the movement that started from Internet, like Indonesia unite,. There is no age limitation in internet.

So for the teenagers, what are you waiting for, if you dont have any bravery to speak up your mind, go to “cyber world”, share your opinion there and make your voice heard.

check these site out :

Indonesia youth conference

JakartaGlobe

Terrant books

→ 3 CommentsCategories: 1

Dilarang diinjak, Dilarang ditindas

August 14, 2009 · 9 Comments

Saya berasal dari suku jawa, dimana kata sebagian orang suku itulah yang layak memimpin negara ini, entah mengapa? sumpah secara pribadi saya amat sangat tidak setuju dengan pernyataan rasis macam ini.

Saya juga memiliki darah madura, entah mitos atau bukan katanya orang madura galaknya bukan main, jadi jangan coba-coba ya bermain-bermain nakal dengan saya ;P

Saya bertuhan kepada Allah SWT, agama saya Islam, dimana agama tersebut merupakan agama mayoritas di negara ini. seking banyaknya yang memeluk agama tersebut, sebagian hanya sekedar menjadikan agama tersebut sebagai syarat yang harus tertera di bagian belakang KTP mereka, sebagian kecil sampai berani meledakan tubuh sendiri, atas nama agama tersebut yang seharusnya cinta damai.

Meskipun tidak banyak, saya masih memiliki lembaran-lembaran rupiah yang bisa membuat diri saya tidak menyantap ikan asing setiap hari, makan daging setahun sekali itupun sekilo dibagi dari buyut sampai cicit. Meski lembaran tersebut tak banyak setidaknya saya bisa menyantap hidangan kebule-bulean, memberi barang yang mahal karena namanya. sekali lagi, meski tak sering.

Intinya tak ada alasan untuk menindas saya, karena saya berasal dari kaum mayoritas,

Lebih dari setahun lalu sebuah pilihan harus ditentukan, pilihan yang amat gancil hanya berbeda satu huruf antara a dan s,(yang ironisnya merupakan inisial nama saya sendiri). tapi perbedaannya , naujubilah kata orang jauh langit ke bumi. bagi saya keduanya sama-sama langit, sama-sama bumi juga.
A itu untuk IPA, S untuk IPS

Saya yakin seyakin-yakinnya, anak kelas satu manapun yang masih normal dan waras pasti ogah seogahnya masuk IPS,

Tapi intinya saya mau.

Bagi saya, saya harus mendapatkan apa yang saya mau
Dan jadilah sekarang saya ini siswa kelas akhir jurusan IPS

Penindasan dimulai, bukan, bukan teman sekelas saya yang menindas saya. Sumpah mereka baik-baik.
Saya yang terbiasa jadi mayoritas kini jadi minoritas, dimana sebagian besar mayoritas selalu menganggap minoritas sebagai orang asing bahkan bila dilebih-lebihkan sebagai bencana.

Saya menjadi korban penindasan sebuah sistem yang tak jelas, korban penindasan pandangan masyarakat. Tubuh saya tetap segar bugar dan mulus, sama seperti model yang katanya ditindas di negeri seberang tapi masih sehat walafiat.

Mayoritas selalu memberi jukulan untuk si minoritas

Buktinya : kenapa ada sebutan cina ? kenapa ada sebutan arab? toh sama -sama warganegara indonesia. Kenapa pula tak ada sebutan jawa? apa karena orang-orang pada takut, prsiden-presiden kita iu jawa-jawa, lihat saja nama mereka yang berakhiran o-o semua.

Kembali ke topik :
saya heran sewaktu ada orang bertanya kepada saya
O (orang) :lo ipa apa ips ?
S  (saya)    :ips
S                   : (terdiam, lah orang si orang cuman nanya ipa apa ips ya gue jawab dengan pendek dong)
O                   : yaa, ya udahlah gak apa-apa kali ips juga bagus kok
WTH, apa maksud lo, ya udahlah gak apa-apa? seakan-akan gue yang IPS itu bencana besar

lainnya lagi
O : lo ipa berapa ya?
S : (bengong)
O : oh iya lupa lo kan ips, eh sori banget ya

Sori banget ? salah sebut kelas hal yang biasa toh? tapi yang terjadi seakan-akan si orang bagai salah menyebut, bertanya “anak lo udah berapa?” pada remaja berusia 17 tahun.

saya tak pernah menyesal seujung kuku pun, telah memilih hal tersebut. Mencoba sok diplomatis, sok bijaksana. Bagi saya Kebahagiaan itu muncul saat kita bisa menghargai dan mensyukuri atas apa yang kita punya, bukan saat orang lain menghargai apa yang kita punya.

Satu lagi :
Jangan kucilkan kaum minoritas.
Mayoritas + minoritas = 1

→ 9 CommentsCategories: learn about life

Forever Chameleon

July 20, 2009 · 7 Comments

Saya suka bertanya dalam hati,

saya ini masuknya orang tipe apa ya disekolah

Bagi kalian yang doyan nonton sinetron abg indonesia, atau serial abg ala disney-disneyan. Perlu digaris bawahi, beberapa part dari serial-serial itu memang terjadi benar apa adanya didunia nyata, didunia yang kita huni sekarang ini.

Oke tidak  se ekstreme di sinetron dimana para siswi-siswi mengenakan anting-anting warna-warni, bando meriah, kaos kaki lorang-loreng bagai jerapah menelan cat air.

Atau siswanya yang membuka 2 kancingnya, untuk menunjukan kalung blink-blink ala rock star.

Tapi masalah, pertemanan yang berkelompok-kelompok, memang benar adanya.

Sedikit radikal menceritakan ini, tapi memang benar adanya.

Sulit menebak-nebak,  bahkan diri saya sendiri. Kira-kira apa motif saya menulis tulisan gak penting seperti ini,

apa karena sirik, merasa diri sendiri gak punya sense of belonging akan suatu kelompok tertentu, Merasa gak dimiliki oleh kelompok tertentu, sehingga kalau saya menghilang tiba-tiba, tak ada yang ingat dan tak ada yang tahu.

Keeksisannya saja seperti hantu, kadang tampak kadang tidak.

atau karena saya memang peduli, bahwa hidup memang tidak  boleh saling mengelompok-lompokan.

Sama-sama dibuat Tuhan,  sama-sama menghirup berebut oksigen, sama-sama butuh uang, sama-sama pengen dihormati,  sama-sama pengen hidup senang.

Masalahnya saya bingung sangat, kelompok mana saya ini?

Jawaban yang saya temukan Siapa suruh lo, hidup kayak bunglon, sebentar-sebentar baik, sebentar enggak, sebentar keliatan pinter dan rajin, sebentar lainnya enggak, kadang keliatan oke, kadang kacrut. Mulai sekarang cari gih kelompok bunglon kayak lo, itu juga kalo ada

Dilanjutkan dengan nasihat dari dan untuk diri sendiri

Makanya hidup konstan-konstan aja, maunya a ya a aja jangan mau a mau juga b, a sama b tuh beda.

Pusing juga kalau gitu, apa maunya saya. Karena memang didunia ini pasti ada kelompok sosial, dan itu harus dipilah-pilih salah satu yang sesuai.

Percakapan antara arya 1 dan arya 2 terjadi dalam diri saya

A1 :Tapi gak berkelompok juga bisa kok, kayak gue selama ini, tempo-tempo main sama yang ini besok lusa sama yang itu, asyik kok

A2 : Ya terserah, kalau mau gak pernah mati gaya sebaiknya lo punya kelompok

A1 : Alah, palingan ini pas SMA aja, kelompok-kelompokan gak penting, nanti mah udah pada dewasa berbaur satu sama lain.

A2 : Sok tau lo. makin tua makin parah. Lo nanti harus milih mau punya rumah didaerah elite atau enggak. Kalo lo tinggal di daerah elite gengsi lo naik, kalo enggak ya gitu-gitu aja. Lo juga harus milih, deket-deket sama sipa aja lo, pas lagi ada pesta. Kalo deket-deket sama orang penting lo bisa naik, kalo enggak ya stay aja lo disitu-situ terus sampai berkerut.

A1: Picik bener otak lo, gue mau maju karena emang diri gue sendiri

A2 : Picik-picik begini yang penting gak naif atau sok naif kayak lo

A1: Ah terserah deh

Kembali ke permasalahan

Kalau bergabung ke kelompok yang katanya eksis ( saya juga bingung kenapa julukannya eksis, eksis itu kan artinya “ada”, ada apanya saya bingung? ada-ada saja mungkin maksud eksis itu)

Bisa-bisa saya kebingungan sendiri menghadapi teman geng saya yang curhat

Gimana dong gue masih jomblo, mau hang out gak seru sendirian

Bibir berkata manis madu, hati saya malah berseru

Siapa suruh lo ribet-ribet nyari pacar, mending temenan, kayak mau nikah besok sore aja

Ternyata hati nurani saya tidak pro pacaran, tidak sesuai dengan geng kaum katanya eksis, yang tak sedap rasanya sabtu hang out tanpa pasangan .

Kalau saya masuk geng alim,

Keluarga saya bisa bingung bukan kepalang seandainya di rumah saya berkata…

Astagfirulloh ma, pa. kok tadi malem aku gak dibangunin tahajud, pokoknya ya ma besok sabtu kita jangan kemana-kemana kita tadarusan bareng. Kita harus membangun akhlak bangsa demi Indonesia cemerlang. Kita lanjutkan perjuangan para rasul, lebih cepat-lebih baik pa, kita harus pro dengan rakyat-rakyat yang butuh hidayah dan uluran tangan. Kita sama-sama berjuang ya pa, ma. Kita berjihad dengan benar.

Bagaimana mungkin saya memperbaiki akhlak bangsa, akhlak sendiri pun masih dipertanyakan keberadaannya.

Saya tak akan memproklamirkan diri sebagai salaha satu dari beberapa kelompok yang ada, karena tak semua nilai bisa saya terima, tapi tentunya banyak juga nilai mereka yang saya serap untuk memperbaiki diri.

Hal yang saya garis bawahi

Saya salut baik untuk katanya eksis, dan alim.

Yang eksis bisa menggerakan orang banyak

Yang alim bisa mengontrol orang banyak juga

Bersikap sesuai dengan apa yang ada di hati nurani,

Tidak seperti saya yang masih bunglon, tempo begini, tempo begitu

Dibilang eksis atau alim, keduanya sama-sama tidak

Kalau bisa meilih saya akan menjadi kedua-duanya untuk mendapatkan paduan yang sempurna

Tapi jujur dari hati yang paling dalam, andai di masyarakat luas  ini eksis dan alim bisa bersatu. akan hebat jadinya. Tak ada lagi perbedaan satu dan yang lain.

Kita semua akan berkelompok, tapi sebagai satu kelompok yang sama

→ 7 CommentsCategories: learn about life

#indonesiaunite

July 19, 2009 · 2 Comments

Diinspirasikan gerakan #indonesiaunite di twitter

Sama sekali saya tak berniat untuk, mempromosikan mie instant merk tertentu apalagi berkampanye ;)

Saya yakin kita amat sangat familiar dengan lagu ini.

Dari sabang sampai merauke

Dari miangas sampai pulau rote

Yang mau saya tunjukan adalah, Betapa luasnya Indonesia.

Besar sekali, bahkan saya yang 17 tahun lamanya hidup di Indonesia pun tidak tahu pasti posisi geografis tempat-tempat itu secara pasti.

Tapi yang saya tahu pasti, Indonesia itu beragam. Tak perlu membandingkan perbedaan saya, penghuni pulau jawa, hidup di kota besar dan penduduk papua yang tinggal di belantara. Membandingkan diri antara saya dan teman sekolah  saya saja sudah pasti berbeda, meski sebenarnya latar belakangnya tak jauh berbeda.

Sedikit-sedikit terjadi masalah diantara kita, ya wajar saja. Namanya kita juga berbeda.

Tak mungkin juga di negara seluas dan sepadat ini, kita hanya mendapati berita pencurian jemuran di semua headline surat kabar nasional, di tv berita dijadikan topik pembicaraan.  masalah yang kita hadapi pasti lebih dari itu,

Apa karena kita tak disayang sama yang menciptakan kita,

Sepertinya tidak, tapi karena kita ini besar

Kita hebat

Kan salah satu peribahasa kita berbunyi,

Semakin tinggi pohon, semakin kencanglah angin bertiup

Hmm, rasanya tak sia-sia sewaktu SD dulu saya berlatih menulis tegak bersambung dengan kalimat-kalimat Pribahasa.

Ternyata pribahasa bukan sekedar kalimat, nasihat seadanya, yang mudah diucap, ditunaikannya kapan kapan nanti.

Sering memang saya dengar orang-orang berkata,

Lihat tuh negara a negara b, tetangga kita merdekanya baru kemarin sore, sekarang udah bisa begini- sudah bisa begitu, kita malah makin terpuruk semakin hari

atau

Dulu si negara C, dia datang mau belajar ke kita, sekarang malah kita kesana yang belajar sama dia. Mending belajar aja, bahkan kita nyuciin piring bekas mereka makan

Kadang saya berpikir benar juga,

Tapi kita juga tak serendah itu, kita hebat

Kadang memuji diri sendiri dan merasa diri hebat sangat diperlukan, untuk memotivasi diri sendiri. Tak mungkin didunia ini ada artis dan presiden kalau tak ada orang yang sadar dirinya hebat,

Karena kita besar kita pasti bisa,

Bisa maju melebihi yang lainnya

Karena jumlah kita banyak kita pasti mampu,

Kalau bersatu,

#indonesiaunite

→ 2 CommentsCategories: My Life

“Famous” teen and “Losers” Teen

July 2, 2009 · Leave a Comment

katanya hidup itu bagaikan putaran roda, tempo-tempo diatas, tempo-tempo di bawah

Kalau begitu adanya, berarti suatu saat nanti hidup saya akan gilang gemilang seperti bintang gemintang diangkasa.

Jadi Begini ceritanya

Tak pernah-pernahnya saya menonton TV channel kebanggan  pemerintah.

Acaranya sih oke-oke, gak kalah variatif dengan TV-TV lain, tapi maaf beribu maaf ya, acaranya dikemas secara katrok.

Suatu sore, saya menonton suatu acara di channel itu

Acaranya mirip dengan Idol, Tapi pesertanya lebih ABG, Anak SMP atau SMA lah. Mungkin bisa dibilang lebih mirip Mamamia tapi tanpa mama sebagai manajerku.

Adalah seorang peserta, laki-laki tambun, 13-15 tahunan

Saya amat penasaran dengan kontestan itu, kontestan itu menyanyikan lagu dari Agnes , tapi bukan lagu-lagu yang bertempo up beat, tapi lagu-lagu balladnya agnes. Nah bisa kebayang kan bagaimana jadinya.

Sehabis menyanyi ada sesi unjuk foto-foto kenangan,  seperti di Ceriwis . Saya kira foto-foto aib yang akan ditunjukan, dan oh la la ternyata foto-fotonya si tambun itu, foto-foto bersama para tokoh penting dan selebritis papan atas.

Hostnya bertanya, kamu foto dimana ini. Si Tambun pun menjawab, ini waktu aku menang lomba ini, yang itu waktu menang lomba itu, yang sama artis ini waktu ketemu disini, yang sama artis itu tuh, waktu penobatan duta anak ceria tahun 2007.

Oh God

saya kagum apa iri ya ?

hati-hati nakal saya berkata

” ah elu sok banget sih, liat tuh baju lo udah kayak apaan tau, pake kemeja warna shocking, dasi gambar kartun, sok imut dasar”

Dilanjutkan dengan

“kalo gue dikasih modal 500 ribu aja buat beli baju , baju gue bisa jauh lebih oke dari punya lo, dan kalo gue dikasih modal suara yang lebih bagus dari punya lo, mana mau gue tampil di TV katrok”

Kenyataannya

Saya tidak akan membeli baju untuk pentas, ya karena apa yang mau dipentaskan dari diri saya.

Nyanyiankah?  kualitas suara saya sedikit diatas kualitas vokalis band -band baru dan duo-duoan fals. 11:12 lah (tetap sombong)

Sulap-sulapan ?  Ngilangin duit, itu hal yang mudah, balikinnya makasih deh.

Goyangan kah? hei jangan salah kawan-kawan, sekali saya bergoyang bisa-bisa langsung dicekal .

Punya daya apapula saya ini mengatai TV kebanggan Indonesia sebagai TV katrok

Lha masuk TV lebih dari 30 detik aja saya belum pernah, pake sok-sokan gak mau tampil di TV katrok itu.

Sombong sekali ya saya ini,

Nah itulah jawabannya, jawaban atas pertanyaan saya

Kenapa saya biasa-biasa saja, tidak gemilang layaknya juara olimpiade science, seperti juara kontes nyanyi anak  abg, atlet pemula,  seperti muka-muka sampul majalah, seperti juara kelas berturut-turut dan seperti orang-orang lain diusia saya yang pencapaiannya sudah berkali-kali lipat umur biologisnya.

Seandainya pada hari ini saya sudah sukses, belum tentu saya mau kenal LU  !

Saya pikir otak saya ini paling cemerlang, bayangin aja dari otak yang seumur hidup belum pernah saya lihat bentuk aslinya bagaimana, saya bisa dapat medali emas, bisa salaman sama pak presiden di Istana, Bisa diwawancara koran dan TV, bisa dielu-elukan, bisa dapat beasisiwa sekolah sampai mabok, dan bisa diprediksi bakal meraih nobel kelak.

Segala “bisa-bisa” an itu membuat saya bisa-bisa sombong.

Mungkin saat saya bertemu pak presiden, saya tidak bangga lagi tapi merasa besar kepala. Pak presiden waktu kecil tidak dapat ,medali emas olimpiade saja bisa jadi presiden, apalagi saya, yang meraih medali emas olimpiade sains.

Mungkin saya akan berkata dalam hati, secara kejam dibalik senyum sumringah saya

“Pak  kalau mau pake peci, mbok ya dihitung-hitung pakai rumus fisika, dan matematika dulu toh. biar gak mencong kanan kiri seperti itu”.

Kalau saya saat ini seorang superstar pop muda, berusia 17 tahun.

Saat ada orang meminta tanda tangan saya

Sebagai orang biasa-biasa saja, mungkin saya akan merasa tersanjung atau khawatir barangkali, “ngapain orang minta tanda tangan gue, buat nipu kali ya”

Tapi kalau saya seorang superstar pop

Saya akan tersenyum selebar dan simetris mungkin, capek badan saya.

dalam hati bergumam

“lu kira tanda tangan gue bisa ngebulin asap dapur lu, mending lu jualan aja diluar gedung konser gua biar dapet duit”

Saya pikir banyak orang yang tak sanggup menerima kesuksesan di usia amat muda. Belasan tahun bahkan kurang dari itu.

Saya syukuri saja, adanya saya hari ini

Tidak pernah diwawancarai  koran apalagi TV

Selalu sumringah saat ada kamera TV tepat dihadapan saya, berharap disorot.

Memang ada orang yang sedari kecil sudah meraih apa yang orang lain inginkan.

Sebagian bisa mempertahankannya hingga hari tua

Sebagian besarnya, tak bisa. Sewaktu kecil gilang gemilang, sudah besar bagaikan kehilangan talent.

Ada yang mencoba apa yang mereka lakukan  sewaktu kecil dulu, nyatanya waktu telah berjalan. Ada yang membonsai diri sendiri padahal umur sudah menua.

Sekali lagi

Hidup benar bagai roda tampaknya

Contohnya, Pak presiden saja

Masa kecilnya biasa saja, tidak mahsyur, sudah tuanya sukses besar.

(Pak presiden yang saya tulis disini, tidak mengarah kepada suatu nama tertentu, Menjelang election day semuanya sensitif, sumpah  saya tidak sedang kampanye lho)

→ Leave a CommentCategories: learn about life

Salute for Mr.X and Mrs. Y :)

July 1, 2009 · 2 Comments

Watched infotainment on TV make me feel sultry, not with the celeb or their news, ( actually iam one of the person who stick by the news), i really resentful with person who gave statements although thats not their concern about. Like Mr. X usually does.

The rules : read it after that dont mention their name, its enough to called those people with you know who

I give my biggest salute to the honourable Mr.X and Mrs. Y.
i dont have enough bravery to mention their complete name
If i do that, im affraid the police will pick me up to the jail, hahaha
as we know aspertion cases are so “hot” on news
They are so famous on TV
These people are really inspiring, they show to us, the different way to get famous
Being celebrity, being politician, being activist
Those are stale ways to be famous

Do your own job, whatever it is
And do it as pro as you can
Actually, pretend that youre so skillfull, youre the most skillfull person in this beloved country
And you can called yourself as expert
Like Mr.X does
He identification many trashy things
He try to find the truth behind the photo,
Publish it infront of mass media
Of course, we love sensation, dont we?
so we watch him on tv, because of our curiousity
craving for his silly statement
unconsciously we make him more famous

For Mrs.Y, shes better than Mr.X indeed
at least she never made any sensation like Mr.X
She become famous, just because shes lucky, I think so
Yes she appears on TV regularly every weekend
Being interviewed by infotainment host, the infotainment show named razor blade (translate that word in english)
Her TV show with mrs.razor blade is so extravagant
promoting deluxe housing, they called it cheap although it cost more than half billion rupiah
with helicopter that fly around the housing estate
and dont forget their boufant
boufant is the symbol of high class people here

for you who read this note, if you know their name please dont mention it and publish it in comment box. To make us save from aspertion, hahaha.

→ 2 CommentsCategories: TV

If Iam Mr. President

June 26, 2009 · Leave a Comment

Hulla hallo,  Mulai pagi ini saya resmi menjadi siswa kelas XII

Liburan ini banyak waktu lenggang, tapi bukannya digunakan untuk menulis

Malah dibuang sia-sia begitu saja

Habisnya saya menunggu komen dipostingan saya sebelumnya banyak dulu.

Aduh, saya ini tolol sekali

Punya mental komersil, nunggu ratting tinggi baru bergerak

Apa bedanya dong saya dengan para produser sinetron ?

Ya sudah, meski comment hanya 4 saya lanjutkan saja. Mental seperti itu tak boleh dipelihara.

Mental saya harus baik, biar bisa jadi calon presiden nantinya. Kalau saya bermental baikkan orang-orang tidak bisa memental-mentalkan saya dengan isu yang bukan-bukan.

Berita pilpres yang sedang mendidih di TV, mau tak mau menginfluence saya. Sedikit-sedikit berkhayal bagaimana ya nanti, kalau saya jadi presiden. Minimal calon presiden deh.

Tapi dipikir-pikir lagi, kayaknya gak mau-mau amat. Saya gak kuat diri. Saya tidak kuat menghadapi peristiwa seperti dibawah, yang membenturkan kemauan saya  dan perbuatan, jadi gak bisa sesuka hati deh.

1. Sebagai seorang presiden saya kan harus dekat ( lebih tepatnya seakan dekat) dengan rakyat. Kalau saya nonton di TV ya, sepertinya definisi rakyat itu mengalami penyempitan, rakyat itu orang-orang miskin.

Berarti saya harus safari pasar ke pasar, ketemu tukang sayur, tukang ikan, tukang daging. Pasti mereka kalau ketemu saya yang notabene orang nomor 1 ini kan histeris, bawaannya ingin dekat-dekat, salaman bahkan merangkul-rangkul.

Tangan mereka itu kan habis bersihin ikan, motongin daging, nyuci sayur. Saya tak tahu apa mereka cuci tangan dulu sebelum salaman sama saya.  Sekarang saja saya atau kita tepatnya para rakyat jelata, malas kan kalau disuruh ke pasar tradisional? apalagi dipeluk tukang ikan.

2. Bagaimana caranya menahan diri dari cengkraman produk luar negeri? Saya ini kan pemimpin bangsa, katanya kita harus cinta produk lokal.

Dan masalahnya adalah..

Oke-oke, memang negeri kita tercinta ini kaya akan sumber daya alam, tapi kalo masalah mengolahnya, ya gitu deh.  Saya pastinya akan tergoda dengan produk-produk luar negeri, apalah arti miliaran-miliaran rupiah di rekening saya kalau tidak digunakan untuk berbelanja ?

Kalau ngotot saya lakukan bisa-bisa saya jadi headline koran nasional, dibilang tidak peka hatinya. Padahal semua itukan pantas saya dapatkan, saya sudah bekerja keras, dikritik sampai sakit kuping dan rasa.  Boleh dong sekali-kalinya memanjakan diri sendiri.  Lha zaman sekarang anak 17 tahun, sudah bisa make tas hermes 160 juta, kacamata 700an juta dan dihadiahi alphard (meski second katanya).

Padahal didalam hati saya lebih suka sepatu mahal merek berlutti, tapi demi imaji terpaksa saya make cibaduyut punya.  Aduh pusingnya..

3. Begini salah, begitupun salah, Yang benar yang mana?

Serba salah juga ya, kalau rekening bank saya lebih kecil dari calon-calon penantang saya di Pemilu, orang-orang pada heran, kok presiden simenannya gak terlalu banyak ya? bisa jadi saya dituduh memanipulasi,  biar rakyat simpati trus nyontreng saya lagi

Kalau banyak lebih bahaya lagi, dibilangnya nanti saya gak tau apa-apa soal rakyat cilik lagi. ” Orang Kaya gitu, mana ngerti susahnya beli beras”, rakyat saya akan berkata seperti itu mungkin.

Hati saya emosi, panas, ingin marah, memaki rakyat yang menghina saya itu. Tapi bagaimana dong, biar kata saya punya kuasa, kalau saya marah sama mereka, saya bisa-bisa digulingkan dengan tak terhormat. Di lengserkan.

Hati kecil saya berceletuk ” syirik tanda tak mampu”, Saya kan kaya karena kerja keras, karena punya banyak networking sana sini juga. Bukan sekejap mata.

Makanya Gunakan tangan untuk bekerja sekeras mungkin, langkahkan kaki ke tempat-tempat yang menguntungkan, dan jangan lupa gunakan sikut untuk menyikut kanan dan kiri ( uups ketahuan deh belangnya)

mungkin kalimat-kalimat diatas yang akan melucur ketika kritik semakin menderas.

Saya gak mau deh jadi presiden nanti

Jadi rakyat saja

Tapi yang besar bukan yang kecil

Satu lagi,

Saya amat salut dengan presiden-presiden kita, siapapun itu

Pasti anda-anda semua melalui tahun-tahun yang berat dengan super duper tabah

→ Leave a CommentCategories: My Life

When Go Green Meet Technology

June 22, 2009 · 4 Comments

Matahari makin rajin

Rajin bersinar tentunya

Matahari semakin Pede

Pede menampakan dirinya maksud saya

Bumi semakin Panas jadinya

Manusia semakin malas bergerak karenanya

Sudah beberapa tahun belakangan ini orang-orang menjadi Ribet sendiri dengan yang namanya global warming.

Dimana-mana ada slogan-slogan global warming,

Dan sebagai wujud kepedulian bagi Si Global Warming dicetuslah suatu movement fenomenal yang dinamakan Go Green!

Secara harafiah dalam bahasa Indonesia artinya Ayo Hijau

Go Green menjadi sebuah tren, dimana-mana orang-orang berseru-seru Go green, ikut kampanye Go green,  dengan cara berjalan kaki atau bersepeda bukannya menaiki kendaraan bermotor.

Mulia memang, Tak ada deh asap asap hitam

Habis jalan kaki, bersepeda, rasanya haus. Mampirlah mereka ke warung beli Panta di Plastik, Beli Akua gelas, Beli koka kola di Plastik juga. Yah kalau begitu sama saja bohong dong.  Hari itu asap tidak mereka hasilkan tapi sampah-sampah plastik yang dihasilkannya.

Tapi masih mendinglah daripada saya, Mengkampanyekan go green saja malas.

Palingan saya hanya jadi korban,  Bukan korban KDRT  pastinya. Korban Tren Go green Go greenan. Saya ingat waktu itu sebuah toko buku berinisial A, berlokasi di Citos dan Kemang. Membuat salah satu produk tas pengganti Plastic Bag. Dan dengan tololnya saya merelakan Rp.16.000, hanya untuk membeli tas itu. Habis kelihatannya trendi sekali. Padahal jahitannya gak rapi, kainnya blacu ( maaf kalau salah), tapi saya akui gambar tasnya oke punya.

Go green ternyata hanya sekedar Life Style bagi saya

Kadang-kadang serba salah, bagi saya, kalian atau tepatnya kita  semua.

Di hari yang sepanas ini, satu-satunya  cara memerdekakan diri adalah menyalakan AC.

Tapi kalau menyalakan AC, sama saja kita menunda masalah. Masalah hari ini terselesaikan tapi besok, lusa, tahun depan. Buminya semakin panas karena AC yang kita nyalakan pada hari ini.

Tapi harus sebegitunyakah kita?

Berkorban demi hari esok,  Berkorban untuk anak cucu yang bahkan belum ada, belum tahu rupanya bagaimana.

Ungkapan ” kita jaga bumi demi anak cucu kita”, terdengar amat mengganggu bagi saya.

Seolah kita harus menahan ego, menderita demi seseorang yang tidak pasti keberadaannya.

Saya sih inginnya, urusan saya ya saya, urusan mereka ya biarkanlah mereka.

Zaman kan berubah cepat, kali-kali saja di zaman mereka kelak, sudah ditemukan teknologi baru.

Yang membuat ozon kembali normal, atau setidaknya Mini AC yang bisa dipakai didalam pakaian.

Sos-sok mengalah pada generasi mendatang, bagaikan menyisakan makanan yang akan segera basi untuk entah siapa orangnya.

Sumpah saya bukannya tidak peduli dengan Global Warming

Fakta-fakta tentang Global warming merubah segala-galanya

Simpelnya masalah Hair Spray, yang pemakaiannya merupakan suatu hal yang wajib hukumnya bagi sebagian orang.

Liat aja Nyonya-nyonya pejabat Negara, Rambutnya tak sip rasanya tanpa sasakan. sasakan itu simbol status sosial. Ini Lho gue kaya, Ini lho Gue Berkuasa, Semuanya itu bisa ditunjukan dari berapa tingginya sasakan yang mereka punya. Bahkan terkadang sekalipun memakai Jilbab, Masih tersisa sasakan menongol dari jilbabnya.

Kabar Buruknya, sasakan tak akan tercipta mantap tanpa Hair Spray

haruskah mereka mengganti hair spray dengan gel rambut.

Tegakah kita membiarkan Nyonya-nyonya terhormat itu mengenakan Brylcream, misalnya, sebagai pengganti Hair Spray.

Saya sama sekali tidak membujuk anda-anda untuk berlaku masa bodo pada generasi mendatang

Tapi ya memang hidup kita begini adanya, tak mungkin lepas dari Teknologi. Dan tak ada yang sempurna di dunia ini, pasti setiap teknologi mempunyai titik lemahnya.

Saya pribadi, dengan adanya global warming ini, akan hidup sebiasa-biasanya. Ya tetap makai AC, saya tak akan melabrak orang yang sanggulan dengan bantuan hair spray. Saya pikir Teknologi itu membantu kita.

Ya tapi kita harus tahu diri juga,  Kalau hanya memakai ya boleh-boleh saja, kasihan dong para penemunya sudah mencipta tapi tak digunakan. Tapi  Gunakan seperlunya ya .

Satu lagi tak usah terlalu khawatir pada calon anak cucu kita , mereka pasti bisa bertahan kok. lagi-lagi dengan bantuan teknologi.

→ 4 CommentsCategories: My Life