Galakkan Kegalauan
Galau, entah sejak kapan kata ini begitu populer. Apa-apa dibilang galau akhir-akhir ini, mulai dari lagu, film sampai status orang-orang di situs jejaring sosial. Padahal dari dahulu kan sudah ada lagu yang nyanyinya mengiris-iris, yang minta dipulangkan ke rumah ayah dan ibu. Padahal sebelum ini juga kan sudah ada jutaan film cinta, yang menampilkan adegan sang pemeran utama menangis bertemankan bantal. Padahal, meski zaman dahulu sosial media belum ada, abege-abege kan juga sudah sering mencurahkan perasaannya di: tembok-tembok, meja di ruang kelas, dashboard angkot dan lain segalanya. Namun baru akhir-akhir inilah kegiatan-kegiatan yang awalnya normal menemukan suatu term yang spesifik, galau namanya.
Galakan galau sekarang juga!
Dua sisi galau yang saya lihat, yang satu apa bangeeeet deh dan yang satu kayaknya oke.
1. Yang apa bangeeeet deh
Entah mengapa, linimasa di twitter saya seringkali terbanjiri oleh kalimat-kalimat yang okeee tau sendiri deh bagaimana setiap malam. Rata-rata dengan bahasa inggris, kadang me-retweet akun-akun tertentu yang memang rajin mempost kalimat-kalimat galau. Oh iya untuk meng-clear kan, kegalauan yang saya maksud di sini adalah kegalauan di bidang percintaan. Kadang saya heran sendiri, apa orang-orang menggalaukan apa yang semestinya tidak digalaukan.
Rata-rata kegalauan di linimasa adalah :
a. Love someone who doesnt loves you back
b. Still can’t find someone that fit you well and want you to become his/her girl/boy friend
Okeee ya rata-rata kegalauan yang menjelma dalam sejuta kalimat berlainan ini ya intinya cuman dua ini.
Kenapa menggalaukan yang tidak semestinya digalaukan?
Rata-rata penggalau di linimasa saya usianya bahkan belum mencapai 20 tahun. Okee terserah usia-usia sepantaran saya mungkin masih suka dibilang abg labil berisik sama orang-orang berusia late 20s dan early 30. Iya juga sih agak labil, kadang saya lagi face to face sama seseorang teman/ berjarak beberapa meter saja di dunia nyata. Kemudian saya iseng buka twitter, munculah ia dengan kegalauan nya di dunia maya, padahal di dunia nyata bisa jadi ia sedang bercengkrama penuh riang gembira.
Sebelum ditimpukin sejuta umat ABG, saya juga labil kok. Dan terkadang galau, setelah mengobservasi tweet-tweet macam apa saja yang saya lahirkan tibalah saya pada satu kesimpulan. Kegalauan saya itu rata-rata berkenaan dengan ke-underdog-an saya.
2. Galau yang kayaknya oke
Saya baru sadar, blog ini yang usianya udah hampir 3 tahun dan sudah menghasilkan hampir 100 dusts ini rata-rata isinya kegalauan. Saya nggak bilang blog saya oke lho, tapi at least berkat kegalauan saya bisa produktif menulis sesuatu yang insya allah disebut tulisan. Segala sesuatu, karya yang ada di depan mata kita ini adalah produk kegalauan. Kalo Graham Bell nggak pernah galau betapa susahnya berkomunikasi satu sama lain belum tentu sekarang ada telepon apalagi blekberi yang menunjang abege-abege untuk memperlancar serangan kegalauaannya ke linimasa. Begitu juga penemuan-penemuan lainnya lahir dari kegalauan manusia, yang intinya sama dengan kegalauan para abege-abege di twitter : Kondisi yang ada di kenyataan, tidak sesuai dengan apa yang diangankan.
Galau yang apa bangeeet deh dan lumayan oke keduanya pantas digalakan. Yang apa banget deh digalakan, (galak dalam kalimat ini bermakna seperti kata galak dalam frase anjing galak)diusir jauh-jauh digantikan saja dengan kegiatan positif dan lebih bermanfaat. Yang lumayan oke, juga digalakan saja (digalakan dalam pengertian seperti frase Galakkan Penghijauan).
Hidup Galau!